Meski
sudah puluhan tahun lamanya, namun peristiwa tragis pemberontakan
partai G 30 S / PKI 1965 yang diberitakan dan diisyukan akan mengudeta
negeri ini tak akan pernah terlupakan. Peristiwa tersebut masih banyak
menimbulkan kenangan pahit dan banyak pertanyaan daripada jawabannya.
Untuk
mengenang jasa dan pengorbanan tak ternilai dari ketujuh Pahlawan
Revolusi dan juga untuk memperingati serta mengenang peristiwa tersebut
agar tak pernah ada lagi, maka kami akan menguak sedikit dari banyaknya
tandatanya-tandatanya besar yang masih tersimpan di saku tiap rakyat
Indonesia yang tercinta ini yang belum terjawab.
Mungkin
ada benarnya kata pepatah, jika kita berada diwilayah orang yang
sangat-sangat berkuasa dimana informasi apapun sangat-sangat terbatas
dan penuh rekayasa, maka terkadang kebenaran akan terungkap belakangan
karena kebenaran takkan pernah hilang, walau terlihat seperti hilang
oleh waktu.
A. Kronologi Pengangkatan Jenazah Dari Dalam Sumur
Mengangkat
jenazah tujuh pahlawan revolusi di Lubang Buaya bukan perkara gampang.
Kondisi sumur yang dalam dan mayat yang mulai membusuk, membuat evakuasi
sulit dilakukan.
Tapi para prajurit Kompi Intai Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KIPAM KKO-AL), tak mau menyerah.
Sebenarnya
jenazah sudah ditemukan sejak sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 3
Oktober 1965, atas bantuan polisi Sukitman dan masyarakat sekitar.
Peleton I RPKAD yang dipimpin Letnan Sintong Panjaitan segera melakukan penggalian.
Tapi mereka tak mampu mengangkat jenazah karena bau yang menyengat.
Jenderal Soeharto pun memerintahkan kepada pasukan evakuasi bahwa penggalian dihentikan pada malam hari.
Maka penggalian pun ditunda dan penggalian akan kembali dilanjutkan keesokan harinya.
Dalam
buku Sintong Panjaitan, perjalanan seorang prajurit para komando yang
ditulis wartawan senior Hendro Subroto, dilukiskan peristiwa seputar
pengangkatan jenazah.
Kala itu Sintong berdiskusi dengan Kopral Anang, anggota RPKAD yang dilatih oleh Pasukan Katak TNI AL.
Anang mengatakan peralatan selam milik RPKAD ada di Cilacap, hanya KKO yang punya peralatan selam di Jakarta.
Maka
singkat cerita, KKO meminjamkan peralatan selam tersebut untuk operasi
pengangkatan jenazah dari dalam lubang sumur di daerah lubang Buaya
tersebut.
Tanggal 4 Oktober,
Tim KKO dipimpin oleh Komandan KIPAM KKO-AL Kapten Winanto melakukan
evakuasi jenazah pahlawan revolusi. Satu persatu pasukan KKO turun ke
dalam lubang yang sempit itu.
Pukul 12.05 WIB,
anggota RPKAD Kopral Anang turun lebih dulu ke Lubang Buaya. Dia
mengenakan masker dan tabung oksigen. Anang mengikatkan tali pada salah
satu jenazah. Setelah ditarik, yang pertama adalah jenazah Lettu Pierre
Tendean, ajudan Jenderal Nasution.
Pukul 12.15 WIB,Serma
KKO Suparimin turun, dia memasang tali pada salah satu jenazah, tapi
rupanya jenazah itu tertindih jenazah lain sehingga tak bisa ditarik.
Pukul 12.30 WIB,giliran Prako KKO Subekti yang turun. Dua jenazah berhasil ditarik, Mayjen S Parman dan Mayjen Suprapto.
Pukul 12.55 WIB, Kopral KKO Hartono memasang tali untuk mengangkat jenazah Mayjen MT Haryono dan Brigjen Sutoyo.
Pukul 13.30 WIB,
Serma KKO Suparimin turun untuk kedua kalinya. Dia berhasil mengangkat
jenazah Letjen Ahmad Yani. Dengan demikian, sudah enam jenazah pahlawan
revolusi yang ditemukan.
Tapi semua penyelam KKO dan RPKAD sudah tak ada lagi yang mampu masuk lagi. Mereka semua kelelahan.
Bahkan ada yang keracunan bau busuk hingga terus muntah-muntah.
Maka Kapten Winanto sebagai komandan terpanggil melakukan pekerjaan terakhir itu. Dia turun dengan membawa alat penerangan.
Ternyata benar, di dalam sumur masih ada satu jenazah lagi. Jenazah itu adalah Brigjen D.I. Panjaitan.
Dengan
demikian lengkaplah sudah jenazah enam jenderal dan satu perwira
pertama TNI AD yang dinyatakan telah hilang diculik Gerakan PKI pada
tanggal 30 September 1965.
Kapten
KKO Winanto sendiri terus melanjutkan karirnya di TNI AL. Lulusan
Akademi Angkatan laut tahun 1959 ini pernah menjabat Komandan Resimen
Latihan Korps Marinir, Komandan Brigade Infanteri 2/Marinir sebelum
pensiun sebagai Gubernur AAL.
Ia
sudah meninggal pada Minggu, 2 September 2012 pukul 22.15 WIB dalam
usia 77 tahun di kediamannya Jl Pramuka no 7, Kompleks TNI AL, Jakarta
Pusat. Jenazahnya dimakamkan dengan upacara militer di San Diego Hills,
Karawang, Jawa Barat.
B. KronologiVisum et EpertumDokter Forensik
4
Oktober 1965. Pukul 4.30 sore saat itu. Lima dokter yang diperintahkan
Pangkostrad dan Pangkopkamtib Mayor Jenderal Soeharto memulai tugas
mereka.
Jenazah enam Jenderal dan satu perwira menengah korban penculikan dan pembunuhnan yang dilakukan kelompok Letkol Untung pada dinihari 1 Oktober mereka periksa satu persatu. Ketujuh korban itu adalah:
Jenazah enam Jenderal dan satu perwira menengah korban penculikan dan pembunuhnan yang dilakukan kelompok Letkol Untung pada dinihari 1 Oktober mereka periksa satu persatu. Ketujuh korban itu adalah:
1. Ahmad Yani, Letnan Jenderal (Menteri Panglima Angkatan Darat).
2. R. Soeprapto, Mayor Jenderal. (Deputi II Menpangad).
3. MT. Harjono, Mayor Jenderal. (Deputi III Menpangad).
4. S. Parman, Mayor Jenderal. (Asisten I Menpangad).
5. D. Isac Panjaitan, Brigardir Jenderal. (Deputi IV Menpangad).
6. Soetojo Siswomihardjo, Brigardir Jenderal. (Oditur Jenderal/ Inspektur Kehakiman AD).
7. Pierre Andreas Tendean,Letnan Satu. (Ajudan Menko Hankam/ KASAB Jenderal AH Nasution).
Jenazah
enam jenderal dan satu perwira muda Angkatan Darat ini ditemukan di
sebuah sumur tua di desa Lubang Buaya, Pondokgede, Jakarta Timur. Dari
lima anggota tim dokter yang mengautopsi ketujuh mayat itu dua di
antaranya adalahdokter Angkatan Darat, yakni:
1.dr. Brigardir Jenderal Roebiono Kertopati(perwira tinggi yang diperbantukan di RSP Angkatan Darat)
2. dr. Kolonel Frans Pattiasina(perwira kesehatan RSP Angkatan Darat)
Sementara tiga lainnya adalahdokter Kehakiman, masing-masing:
3. Prof. dr. Sutomo Tjokronegoro(ahli Ilmu Urai Sakit Dalam dan ahli Kedokteran Kehakiman, juga profesor di FK UI)
4. dr. Liauw Yan Siang(lektor dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman FK UI)
5. dr. Liem Joe Thay(atau
dikenal sebagai dr. Arief Budianto, lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), anda dapat membaca
kisahnya di akhir halaman ini)
Akhirnya
lewat tengah malam, pukul 12.30 atau dinihari pada tanggal 5 Oktober
1965, dr. Roebiono dkk menyelesaikan tugas mereka. Beberapa jam
kemudian, saat matahari sudah cukup tinggi, ketujuh jenazah korban
penculikan dan pembunuhan yang kemudian disebut sebagai Pahlawan
Revolusi ini, dimakamkan di TMP Kalibata.
Tampak salah satu peti jenazah Pahlawan Revolusi sedang diangkat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
C. HasilVisum et RepertumJenazah Tiap Korban
Ketika
diperiksa ketujuh mayat telah dalam keadaan membusuk dan diperkirakan
tewas empat hari sebelumnya. Dapat dipastikan ketujuh perwira tinggi dan
pertama Angkatan Darat ini tewas mengenaskan dengan tubuh dihujani
peluru dan tusukan.
1. Ahmad Yani (Menteri Panglima Angkatan Darat).
Jenazah
Letjen Ahmad Yani diidentifikasi oleh Ajudan Menpangad Mayor CPM
Soedarto dan dokter pribadinya, Kolonel CDM Abdullah Hassan, dengan
penanda utama parut pada punggung tangan kiri dan pakaian yang
dikenakannya serta kelebihan gigi berbentuk kerucut pada garis
pertengahan rahang atas diantara gigi-gigi seri pertama.
Tim
dokter menemukan delapan luka tembakan dari arah depan dan dua tembakan
dari arah belakang. Sementara di bagian perut terdapat dua buah luka
tembak yang tembus dan sebuah luka tembak yang tembus di bagian
punggung.
a. Info dari Indo Leaks
Sebelumnya, dokumenvisum et repertumAhmad Yani yang dirilis Indoleaks juga hanya menyebutkan luka tembak.
Visum
et Repertum Jenderal Ahmad Yani (Klik untuk memperbesar). (sumber:
blogs.swa-jkt.com/swa/10693/2013/01/29/30-september-1965)
Padahal Orde Baru mencatat kalau PKI telah mencungkil mata Pahlawan Revolusi itu.
2. R. Soeprapto (Deputi II Menpangad)
Jenazah Mayjen R. Soeprapto diidentifikasi oleh dokter gigi RSPAD Kho Oe Thian dari susunan gigi geligi sang jenderal.
Pada jenazah R. Soeprapto ditemukan:
(a) tiga luka tembak masuk di bagian depan,
(b) delapan luka tembak masuk di bagian belakang,
(c) tiga luka tembak keluar di bagian depan,
(d) dua luka tembak keluar di bagian belakang,
(e) tiga luka tusuk,
(f) luka-luka dan patah tulang karena kekerasaan tumpul di bagian kepala dan muka,
(g) satu luka karena kekesaran tumpul di betis kanan, dan
(h) luka-luka dan patah tulang karena kekerasan tumpul yang berat sekali di daerah panggul dan bagian atas paha kanan.
(b) delapan luka tembak masuk di bagian belakang,
(c) tiga luka tembak keluar di bagian depan,
(d) dua luka tembak keluar di bagian belakang,
(e) tiga luka tusuk,
(f) luka-luka dan patah tulang karena kekerasaan tumpul di bagian kepala dan muka,
(g) satu luka karena kekesaran tumpul di betis kanan, dan
(h) luka-luka dan patah tulang karena kekerasan tumpul yang berat sekali di daerah panggul dan bagian atas paha kanan.
a. Indoleaks: Ternyata Saat Wafat, Organ Tubuh Letnan Jenderal Soeprapto Masih Utuh!
Letjen Supraptoadalah
pahlawan revolusi yang menjadi korban pembunuhan G30 S PKI pimpinan DN
Aidit dan Kolonel Untung. Beliau lahir di Purwokerto 20 Juni 1920 dan
wafat di Lubang Buaya 1 Oktober 1965.
Letnan
Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto (lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 20
Juni 1920 meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur
45 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah
satu korban dalam G30SPKI dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
Kalibata, Jakarta.
Pendidikan umum yang berhasil ia tamatkan adalah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yakni pendidikan setingkat SMP dan AMS (Algemne Middelberge School) yaitu pendidikan setingkat SMA.
Suprapto pernah mengikuti pendidikan militerKoninklijke Militaire Akademiedi Bandung namun tidak tamat karena pendudukan Jepang.
Pada
pemberontakan yang dilancarkan oleh PKI pada tanggal 30 September 1965,
dirinya menjadi salah satu target yang akan diculik dan dibunuh.
Hingga
meredupnya peristiwa tersebut, tak ada lagi yang membahasnya karena
kini telah sibuk oleh brainwashed dunia lainnya dan mulai menganggap
bahwa sejarah sudah lewat dan bukanlah apa-apa lagi. Padahal melalui
sejarah, kita dapat belajar, karena sejarah adalah fakta, dan fakta
adalah sejarah. Sejarah adalahtrack record.
b. DokumenVisum et RepertumLetjen Suprapto
Kisah
sadis menyertai peristiwa G30S PKI dalam sejarah yang dicatat Orde
Baru. Letjen Anumerta R Soeprapto misalnya, disebut disilet-silet dan
dipotong alat kelaminnya. Namun sebuah dokumenvisum et repertumyang dirilis situswhistle blowerIndoleaks, menunjukkan hal yang berbeda.
Dari situs resminya yang dikeluarkan sejak beberapa tahun lalu, Senin (13/12/2010), ada lagi sebuah dokumenvisum et repertumyang
dibuat oleh 4 dokter RSPAD yaitu dr Roebino Kertopati, dr Frans
Pattiasina, dr Sutomo Tjokronegoro, dr Liaw Yan Siang, dr Lim Joe Thay,
pada 5 Oktober 1965. Bagian nama, tempat tanggal lahir, pangkat, jabatan
dan alamat sengaja dihitamkan.
Tampak dokumenVisum et repertumoleh dokter dituliskanpro justitia.
Bahwa sumpah pro justitia tidak boleh bohong, tidak boleh menambah,
tidak boleh mengurangi. Apa kenyataan itu, harus dimasukkan dalamvisum et repertumitu harus jadi pegangan, sebab ini satu kenyataan, bukan khayalan.
Visum et Repertum Jenderal Suprapto (Klik untuk memperbesar). (sumber: blogs.swa-jkt.com/swa/10693/2013/01/29/30-september-1965)
Namun dari deskripsi luka, diduga kuat bahwa dokumen itu adalah dokumenvisum et repertumLetjen
TNI Anumerta R Soeprapto. Data pembandingnya adalah keterangan visum
Letjen R Soeprapto yang pernah disebutkan dalam makalah pakar politik
Indonesia dariCornell University, AS, Ben Anderson, pada jurnal Indonesia edisi April 1987.
Ada
kain sarung dan kemeja yang melekat pada korban. Ada beberapa persamaan
dan banyak juga perbedaan antara luka Letjen Soeprapto versi Orde Baru
dan dokumen visum yang asli. Berbeda dengan Ahmad Yani, Soeprapto masih
hidup saat diculik dari rumahnya. Dia baru gugur di Lubang Buaya.
Dalam versi Orde Baru dan juga dilansir HarianBerita Yudha9
Oktober 1965, wajah dan tulang kepala Soeprapto remuk namun masih dapat
diidentifikasi. Hasil visum juga menunjukkan kalau ada luka dan pukulan
benda tumpul yang menyebabkan patah tulang di bagian kepala dan muka.
Lubang sumur tua sedalam 12 meter yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S/PKI. Sumur tua itu berdiameter 75 Cm.
Nah,
justru perbedaannya yang mencolok. Versi TNI menyebutkan ada pengakuan
anggota Gerwani, bahwa mereka menyilet-nyilet korban, bahkan memotong
alat kelamin korban. Namun, rupanya dalam dokumen yang diungkapIndoleaks, hal itu tidak terbukti.
Laporan
visum untuk Soeprapto, selain patah/retak tulang tengkorak di enam
titik, adalah patah tulang di betis kanan dan paha kanan.
Luka
benda tumpul diduga batu atau popor senapan. Soeprapto memang mengalami
3 luka tusuk, namun dari bayonet dan bukan silet. Soeprapto juga gugur
akibat 11 luka tembak di berbagai bagian tubuh. Selain itu tidak ada
luka lagi. Tidak ada bukti penyiletan apalagi mutilasi alat kelamin.
Pembunuhan Letjen Soeprapto tentu saja tragis, namun tidak sesadis yang dijabarkan dalam catatan sejarah versi Orde Baru.
Ia
juga salah satu perwira TNI yang menolak pembentukan angkatan kelima
yang diusulkan PKI sehingga menjadi target pembunuhan PKI bersama Ahmad
Yani, MT Haryono, DI Pandjaitan,Sutoyo Siswo Miharjo dan S.Parman.
Monumen
Pancasila Sakti, yang berada di daerah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta
Timur ini, berisikan bermacam-macam hal dari masa pemberontakan G30S
PKI, seperti pakaian asli para Pahlawan Revolusi.
d. Perbandingan Informasi
Mari kita coba kembaliflashbackdari info diatas mengenai janazah Soeprapto, menurut info dari ABRI dan Indo Leaks.
i. Versi Orba dan TNI:
- Wajah dan tulang kepala Soeprapto remuk namun masih dapat diidentifikasi.
- Luka dan pukulan benda tumpul yang menyebabkan patah tulang di bagian kepala dan muka.
- Menurut versi TNI menyebutkan ada pengakuan anggota Gerwani, bahwa mereka menyilet-nyilet korban, bahkan memotong alat kelamin korban.
- Luka dan pukulan benda tumpul yang menyebabkan patah tulang di bagian kepala dan muka.
- Menurut versi TNI menyebutkan ada pengakuan anggota Gerwani, bahwa mereka menyilet-nyilet korban, bahkan memotong alat kelamin korban.
ii. Versi Indoleaks:
- Ada kain sarung dan kemeja yang masih melekat pada korban.
- Jenderal Soeprapto masih hidup saat diculik dari rumahnya.
- Dalam dokumen yang diungkap Indoleaks, Jendral ini tak disilet-silet, dan alat kelamin korban tak dipotong.
- Terdapat patah/retak tulang tengkorak di enam titik, adalah patah tulang di betis kanan dan paha kanan. Luka benda tumpul diduga batu atau popor senapan.
- Soeprapto memang mengalami 3 luka tusuk, namun dari bayonet dan bukan silet.
- Soeprapto juga gugur akibat 11 luka tembak di berbagai bagian tubuh. Selain itu tidak ada luka lagi. Tidak ada bukti penyiletan apalagi mutilasi alat kelamin.
- Jenderal Soeprapto masih hidup saat diculik dari rumahnya.
- Dalam dokumen yang diungkap Indoleaks, Jendral ini tak disilet-silet, dan alat kelamin korban tak dipotong.
- Terdapat patah/retak tulang tengkorak di enam titik, adalah patah tulang di betis kanan dan paha kanan. Luka benda tumpul diduga batu atau popor senapan.
- Soeprapto memang mengalami 3 luka tusuk, namun dari bayonet dan bukan silet.
- Soeprapto juga gugur akibat 11 luka tembak di berbagai bagian tubuh. Selain itu tidak ada luka lagi. Tidak ada bukti penyiletan apalagi mutilasi alat kelamin.
3. MT. Harjono (Deputi III Menpangad)
Jenazah
Mayjen MT. Harjono diidentifikasi oleh saudara kandungnya, MT.
Moeljono, pegawai Perusahaan Negara Gaya Motor. Salah satu tanda
pengenal jenazah ini adalah cincin kawin bertuliskan Mariatna, nama sang
istri.
Cincin
kawin, bertuliskan SPM juga menjadi salah satu penanda jenazah Mayjen
S. Parman, selain kartu tanda anggota AD dan surat izin mengemudi serta
foto di dalam dompetnya.
4. S. Parman (Asisten I Menpangad)
Pada mayat S. Parman ditemukan:
(a) tiga luka tembak masuk di kepala bagian depan,
(b) satu luka tembak masuk di paha bagian depan,
(c) satu luka tembak masuk di pantat sebelah kiri,
(d) dua luka tembak keluar di kepala,
(e) satu luka tembak keluar di paha kanan bagian belakang, dan
(f) luka-luka dan patah tulang karena kekerasan tumpul yang berat di kepala, rahang dan tungkai bawah kiri.
(b) satu luka tembak masuk di paha bagian depan,
(c) satu luka tembak masuk di pantat sebelah kiri,
(d) dua luka tembak keluar di kepala,
(e) satu luka tembak keluar di paha kanan bagian belakang, dan
(f) luka-luka dan patah tulang karena kekerasan tumpul yang berat di kepala, rahang dan tungkai bawah kiri.
5. D. Isac Panjaitan (Deputi IV Menpangad)
Tim
dokter menemukan luka tembak masuk di bagian depan kepala, juga sebuah
luka tembak masuk di bagian belakang kepala. Sementara itu di bagian
kiri kepala terdapat dua luka tembak keluar. Terakhir, di punggung
tangan kiri terdapat luka iris.
6. Soetojo Siswomihardjo (Oditur Jenderal/ Inspektur Kehakiman AD).
Pada mayat Brigjen Soetojo ditemukan:
(a) dua luka tembak masuk di tungkai bawah kanan bagian depan,
(b) sebuah luka tembak masuk di kepala sebelah kanan yang menuju ke depan,
(c) sebuah luka tembak keluar di betis kanan sebagian tengah,
(d) sebuah luka tembak keluar di kepala sebelah depan, dan
(e) tangan kanan dan tengkorak retak karena kekerasan tumpul yang keras atau yang berat.
(b) sebuah luka tembak masuk di kepala sebelah kanan yang menuju ke depan,
(c) sebuah luka tembak keluar di betis kanan sebagian tengah,
(d) sebuah luka tembak keluar di kepala sebelah depan, dan
(e) tangan kanan dan tengkorak retak karena kekerasan tumpul yang keras atau yang berat.
7. Pierre Andreas Tendean (Ajudan Menko Hankam/ KASAB Jenderal AH Nasution)
Mayat P. Tendean dikenali dari pakaian yang dikenakannya, gigi geligi dan sebuah cincin logam dengan batu cincin berwarna biru.
Pada mayat P. Tendean tim dokter menemukan:
(a) empat luka tembak masuk di bagian belakang,
(b) dua luka tembak keluar bagian depan,
(c) luka-luka lecet di dahi dan tangan kiri, dan
(d) tiga luka ternganga karena kekerasan tumpul di bagian kepala.
(b) dua luka tembak keluar bagian depan,
(c) luka-luka lecet di dahi dan tangan kiri, dan
(d) tiga luka ternganga karena kekerasan tumpul di bagian kepala.
D. Format DokumenVisum et Repertum7 Jenazah Korban
Dokumenvisum et repertumketujuh
korban yang saya peroleh dituliskan dalam format yang sama. Di pojok
kanan atas halaman depan terdapat tulisan Departmen Angkatan Darat,
Direktortat Kesehatan, Rumah Sakit Pusat, Pro Justicia.
Sementara di pojok kiri halaman depan tertulis Salinan dari salinan.
Bagian
kepala laporan bertuliskan Visum et Repertum diikuti nomor laporan pada
baris bawah yang dimulai dari H.103 (Letjen Ahmad Yani) hingga H.109
(Lettu P. Tendean).
Bagian awal laporan adalah mengenai dasar hukum tim dokter tersebut. Pada bagian ini tertulis rangkaian kalimat sebagai berikut:
Atas
perintah Panglima Kostrad selau Panglima Operasi Pemulihan Keamanan dan
Ketertiban kepada Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat di Jakarta,
dengan surat perintah tanggal empat Oktober tahun seribu sembilan ratus
enam puluh lima, nomor PRIN-03/10/1965 yang ditandatangani oleh Mayor
Jenderal TNI Soeharto, yang oleh Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat
diteruskan kepada kami yang bertandatangan di bawah ini.
Diikuti
nama dan jabatan kelima dokter anggota tim. Setelah itu adalah bagian
yang menjelaskan kapan dan dimana visum et repertum dilakukan. Pada
bagian ini tertulis kalimat:
maka
kami, pada tanggal empat Oktober tahun seribu sembilan ratus enam pulu
limam mulai jam setengah lima sore sampai tanggal lima Oktober tahun
seribu sembilan ratus enam puluh lima jam setengah satu pagi, di Kamar
Seksi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta, telah melakukan
pemeriksaan luar atas jenazah yang menurut surat perintah tersebut di
atas adalah jenazah dari pada.
Bagian
ini diikuti oleh bagian berikutnya yang menjelaskan jati diri jenazah
dimulai dari nama, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, bangsa, agama,
pangkat, dan terakhir jabatan.
Selanjutnya
ada sebuah paragraph yang menjelaskan kondisi terakhir jenazah sebelum
ditemukan dan diperiksa. Pada bagian ini tertulis:
Korban
tembakan dan/atau penganiayaan pada tanggal satu Oktober tahun seribu
sembilan ratus enam pulu lima pada peristiwa apa yang dinamakan Gerakan
30 September.
Bagian
ini dikuti oleh penjelasan identifikasi; siapa yang mengidentifikasi
dan apa-apa saja tanda utama yang dijadikan patokan dalam identifikasi
itu.
Setelah
bagian indentifikasi, barulah tim dokter memaparkan temuan mereka dari
hasil pemeriksaan luar yang dilakukan terhadap jenazah sebelum
mengkahirinya dengan kesimpulan.
Keterangan gambar atas:Diorama
penyiksaan para Jenderal dan Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Jakarta
(klik untuk memperbesar, sumber gambar: insulinda.wordpress.com)
Bagian
penutup diawali dengan tulisan Dibuat dengan sesungguhnya mengingat
sumpah jabatan pada bagian kanan. Diikuti nama dan tanda tangan serta
cap kelima dokter anggota tim.
Bagian
paling akhir dari dokumen-dokumen yang saya peroleh ini mengenai
autentifikasi dokumen. Karena dokumen ini merupakan salinan dari salinan
maka ada dua penanda autentifikasi dokumen ini.
Bagian
pertama bertuliskan Disalin sesuai aslinya dan ditandatangani oleh Yang
menyalin yakni Kapten CKU Hamzil Rusli Bc. Hk. (Nrp. 303840) selaku
panitera.
Bagian
kedua autentifikasi bertuliskan Disalin sesuai dengan salinan dan
ditandatangani oleh Panitera dalam Perkara Ex LKU Letnan Udara Satu
Soedarjo Bc. Hk. (Nrp. 473726). Namun tidak ditemukan petunjuk waktu
kapan dokumen ini disalin dan disalin ulang.
E. Kisah dr. Arif yang Ikut Mengotopsi Mayat Tujuh Pahlawan Revolusi 1965 (oleh T. Santosa)
Di
atas kursi roda, mengenakan kaos oblong putih dan sarung biru
bergaris-garis, Lim Joe Thay duduk terdiam. Bibirnya mengatup, sering
kedua telapak tangannya ditangkupkan di depan dada dan sekali-sekali
diletakkan di atas paha. Rambutnya telah memutih sempurna. Dia tak
banyak bicara. Kalau pun bersuara, kata-katanya terdengar sayup dan
samar.
Bulan
Juni 2008 yang lalu, dr. Arif sempat dirawat di RS St. Carolus. Ketika
menerima kabar itu dari salah seorang kerabat dr. Arif, saya dan Dandhy
menyempatkan diri menjenguknya.
Di
RS. St. Carolus kami sama-sama mengabadikan dr. Arif. Bedanya, Dandhy
menggunakan video kamera merek Panasonic, sementara saya menggunakan
kamera saku digital merek Canon.
Tadinya,
informasi yang kami terima menyebutkan bahwa dr. Arif terkena serangan
struk. Setelah kami bertemu dengan beliau di paviliun St. Carolus, dan
berbicara dengan istrinya, Ny. Arif, barulah kami ketahui bahwa dr. Arif
dirawat karena terjatuh saat hendak naik ke kursi rodanya.
Sekali
waktu laki-laki yang kini berusia 83 tahun itu bergumam. Mumbling. Saya
mencoba menangkap isi ceritanya. Tidak jelas. Terpotong-potong,
patah-patah. Kalau disambungkan seperti cerita tentang sepasukan tentara
yang bergerak di sebuah tempat, entah di mana. Tapi cerita itu tak
tuntas. Dia menutup sendiri ceritanya, mengalihkan pandangan mata ke
sembarang arah, sebelum kembali menenggelamkan diri dalam diam.
Di
saat yang lain, dia kembali menanyakan nama saya. Dan kalau sudah
begini, saya memegang tangannya, menyebutkan nama saya sambil menatap
matanya. Setelah itu senyumnya sedikit mengembang.
Dia adalah satu dari segelintir orang yang berada di titik paling menentukan dalam sejarah negara ini setelah Proklamasi 1945.
Lim
Joey Thay yang ketika itu adalah lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) merupakan satu dari
lima ahli forensik (lihat daftar dokter diatas halaman) yang berdasarkan
perintah Soeharto memeriksa kondisi ketujuh mayat tersebut sebelum
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, siang hari 5 Oktober.
Kini dari lima anggota tim otopsi itu, tinggal Lim Joey Thay dan Liu Yang Siang yang masih hidup.
Lim
Joey Thay kini sakit-sakitan, sementara sejak beberapa tahun lalu, Liu
Yan Siang menetap di Amerika Serikat dan tidak diketahui pasti kabar
beritanya.
Berpacu
dengan waktu dan proses pembusukan, mereka berlima bekerja keras selama
delapan jam, dari pukul 4.30 sore tanggal 4 Oktober, hingga pukul 12.30
tengah malam 5 Oktober, di kamar mayat RSP Angkatan Darat.
Keterangan gambar atas(klik
untuk memperbesar): Para pengikut partai PKI yang ditangkap sedang
dijaga ABRI (kiri). Sebelum dibunuh para korban diarak warga menuju
tempat pembantaian (kanan).
Sedangkan beberapa tahun lalu, Benedict Anderson telah menggunakan hasilvisum et repertumini sebagai rujukan dalam artikelnya di jurnal Indonesia Vol. 43, (Apr., 1987), pp. 109-134,How Did the Generals Die?
Saya mendapatkan copyvisum et repertumitu dari Dandhy DL, jurnalis RCTI. Tahun lalu, dia juga menurunkan liputan mengenai dr. Arif danvisum et repertumketujuh
pahlawan revolusi korban, meminjam istilah Bung Karno, intrik internal
Angkatan Darat dan petualangan petinggi PKI yang keblinger, serta
konspirasi nekolim.
Keterangan gambar atas(klik untuk memperbesar):
Para korban pembantaian diinterogasi terlebih dahulu agar
memberitahukan siapa lagi yang ikut PKI (kiri). Sebelum dibantai, para
korban disuruh untuk menggali liang lahatnya sendiri (kanan).
Ketujuh
pahlawan revolusi itu jelas mati dibunuh. Namun dari hasil otopsi yang
mereka lakukan sama sekali tidak ditemukan tanda-tanda pencungkilan bola
mata, atau apalagi, pemotongan alat kelamin seperti yang digosipkan
oleh media massa yang dikuasai Angkatan Darat ketika itu.
Gosip
mengenai pemotongan alat kelamin, bahkan ada gosip yang menyebutkan ada
anggota Gerwani yang setelah memotong alat kelamin salah seorang
korban, lantas memakannya telah membangkitkan amarah di akar rumput.
Gosip-gosip
ini, menurut Ben Anderson dalam artikelnya yang lain (saya sedang lupa
judulnya) sengaja disebarkan oleh pihak militer.
Keterangan gambar atas(klik untuk memperbesar):
Sebelum dibunuh, korban dipertontonkan dimuka umum (kiri). Dengan
kondisi tali melingkar di leher dan tangan terikat, korban masuk ke
liang lahat pembantaian yang digali oleh calon korban sendiri (tengah).
Eksekutor mengatur posisi korban sebelum pembantaian (kanan).
Maka
gosip-gosip dan propaganda-propaganda yang dihembuskan dengan kuat
tersebut bagai minyak tanah yang disiramkan ke api. Menyambar-nyambar.
Membuat rakyat marah, bahkan sangat marah.
Selanjutnya,
pembantaian besar-besaran terhadap anggota PKI dan/atau siapa saja yang
dituduh menjadi anggota PKI atau memiliki relasi dengan PKI, terjadi di
mana-mana, seantero Indonesia.
Markas
PKI dibakar Pemuda Anshor dan spanduk-spanduk pemancing amarah rakyat
tampak memenuhi kota-kota di Indonesia. (PKI headquarters burned down by
Muslim Ansor Youth, 8 October 1965)
Keterangan gambar atas(klik
untuk memperbesar): Eksekutor mengatur para calon korban pembantaian
yang kebanyakan masih remaja (kiri). Tampak eksekutor menghujamkan pisau
bayonet berkali-kali ke tubuh korban pembantaian yang terikat tanpa
daya itu satu demi satu sehingga korban mati perlahan karena rusaknya
organ dalam dan kehabisan darah, suasana sadis itu bahkan ditonton
dimuka umum termasuk anak-anak kecil (kanan).
Bahkan
walau tak masuk PKI, namun semua masyarakat yang mencintai Bung Karno
dapat juga menjadi korbannya. Hanya dengan memajang foto atau lukisan
sang Proklamator saja, maka sudah cukup bukti bagi anda dan akan
merasakan akibatnya, dituduh sebagai PKI walau tanpa bukti-bukti lain.
Dengan
hanya berbekal foto Bung Karno yang dipajang di dinding rumah, sudah
cukup membuat tentara-tentara menyeret anda keluar rumah menuju ke dalam
liang lahat pada masa itu!
Masih ingatkah anda, ada 2 jilid buku ukuran besar berjudulDibawah Bendera Revolusitulisan Bung Karno?
Buku tersebut sempat hilang diperedaran setelah era Orde Baru (New World Order) mulai berkuasa. Tak ada yang berani mengeluarkannya dari dalam lemari atau laci, semua tersimpan rapi.
Dulu, karena hanya dengan memiliki buku itupun, sudah cukup bukti bagi tentara untuk dapat menyeret anda masuk ke liang lahat.
Oleh sebab itulah, setelah rezim Orde Baru tumbang di tahun 1998, sepasang bukuDibawah Bendera Revolusitulisan Bung Karno tersebut kembali marak.
Untuk
buku asli cetakan pertama pada masa lalu itu harganya sangat tinggi,
bahkan untuk sepasang buku Jilid-1 dan Jilid-2 dan keduanya adalah
cetakan pertama yang asli harganya antara 25 juta hingga bisa mencapai
ratusan juta rupiah! Namun buku yang tak boleh beredar pada masa Orde
Baru tersebut pada masa kini sudah dicetak kembali.
Keterangan gambar atas(klik
untuk memperbesar): Tampak korban pembantaian yang tewas ditusuk lalu
mayatnya dibiarkan dipinggir jalan (kiri). Tampak korban yang telah
tewas dan masih tergantung di pohon masih dipukul-pukuli dengan kursi
didepan masyarakat umum termasuk anak-anak kecil (kanan).
Respublika
University, run by Communist China government, was attacked by
anti-communist mob. The university was taken over by the military and
became Trisakti University.
Indonesian soldiers burned down a hut suspected as hiding place of PGRS-Paraku communist insurgents in West Borneo.
Dr
Soebandrio, Sukarnos foreign minister whos responsible for aligning
Indonesia with Communist China, was sentenced to death by a military
tribunal
Catatan
tidak resmi menyebutkan setidaknya 500 ribu hingga 3 juta orang tewas
dalam pembantaian massal yang terjadi hanya dalam beberapa tahun itu.
Namun pada masa itu, tak ada satupun media yang berani menyatakan kira-kira banyaknya korban pembantaian ini secara terbuka.
Tampak pemberitaan tentang peristiwa tragis Gerakan 30 September ini, menjadi Headline di surat kabar Harian Rakjat.
Media
pada masa itu benar-benar harus pro pemerintah (mirip di A.S. sekarang
pen) dan semua media harus menyaring informasi yang akan dicetak untuk
masyarakat Indonesia.
Pada
tanggal 22 November 2011 lalu, sekitar pukul 19.00 WIB, akhirnya dr.
Lim Joe Thay atau Arief Budianto meninggal dunia dengan tenang.
Pria berusia 85 tahun itu menghembuskan nafas terakhir di kediamannya di Jalan Johar Baru, Salemba, Jakarta Pusat.
Oleh karenanya, saksi sejarah itu pun ikut serta membawa kenangan pahit Indonesia tentang sejarahvisum et repertumketujuh
Pahlawan Revolusi Indonesia, yang mungkin masih banyak ia sembunyikan
di dalam pikirannya saja. Maka sebagian besar kebenaran sejarah pun ikut
terkubur bersamanya.
Upacara
penaikan dan pengibaran bendera setengah tiang di Istana Presiden
Jakarta, sebagai simbol negara tengah berduka pasca wafatnya 7 Pahlawan
Revolusi di tahun 1965.
Daftar tokoh yang meninggal dalam pembersihan anti-komunis Indonesia
Berikut
adalah daftar tokoh penting di Indonesia yang hilang, terbunuh atau
dihukum mati pada masa pembantaian terduga komunis 1965-1966 di
Indonesia pasca Gerakan 30 September tahun 1965.
- Chaerul Saleh, pejuang dan tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri, wakil perdana menteri, dan ketua MPRS antara tahun 1957 sampai 1966. Salah satu pemuda yang menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok (meninggal 1967 sebagai tahanan).
- D.N. Aidit, ketua PKI (meninggal dibunuh 1965).
- LettuDoel Arif, tokoh kunci dalam penculikan jenderal-jenderal Angkatan Darat yang diduga akan membentuk Dewan Jenderal oleh PKI dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (hilang).
- Lukman Njoto, Menteri Negara pada masa pemerintahan Soekarno dan wakil Ketua CC PKI yang sangat dekat dengan D.N. Aidit (ditangkap 1966 dan hilang).
- Ibnu Parna, politisi fraksi PKI, pemimpin Partai Acoma, dan aktivis buruh (dibunuh).
- Muhammad Arief, pencipta lagu Genjer-genjer (dibunuh).
- M.H. Lukman, Wakil Ketua CC Partai Komunis Indonesia. (dihukum mati 1965)
- Ir.Sakirman, petinggi Politbiro CC PKI dan kakak kandung dariSiswondo Parman, salah satu korban yang diculik meninggal dalam peristiwa G30S (hilang).
- BrigjenSoepardjo, Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat yang memiliki peran penting dalam peristiwa Gerakan 30 September (dihukum mati).
- Sudisman, anggota Politbiro CC PKI (dihukum mati).
- Syam Kamaruzzaman, tokoh kunci G30S dan orang nomor satu di Politbiro PKI yang bertugas membina simpatisan PKI dari kalangan TNI dan PNS (dijatuhi hukuman mati 1968, dieksekusi 1986).
- LetkolUntung Syamsuri, Komandan Batalyon I Tjakrabirawa yang memimpin Gerakan 30 September pada tahun 1965 (dihukum mati 1969).
- Trubus Soedarsono, pematung dan pelukis naturalis Indonesia (dibunuh).
- Wikana, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, bersamaChaerul SalehdanSukarnitermasuk dalam pemuda yang menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok. (hilang)
Lima Versi Utama Peristiwa G30S/PKI
Hingga kini siapa dalang di balik peristiwa Gerakan 30 September (G30S) masih diselimuti mendung tebal. Namun, peristiwacoup detatyang disertai penculikan 6 jenderal Angkatan Darat (AD) itu tetap menggugah untuk diperdebatkan dan dicari kebenarannya.
Dominick LaCapra
Sejarah memang tidak mengenal kata akhir, kata sejarawanCornell University, Amerika Serikat (AS), Dominick LaCapra.
Pasca jatuhnyaNew Orderatau
Orde Baru, versi tunggal milik pemerintah, yang menyatakan PKI sebagai
dalang G30S, digugat (tapi kini akronim G30S/PKI diwajibkan kembali
dalam buku pelajaran sejarah SMP-SMA).
Sejak
saat itu, tinjauan sejarah terhadap peristiwa kelabu tersebut kembali
mendapat angin surga. Berbagai fakta baru tertungkap dan sejumlah versi
pun bermunculan.
Namun, setidaknya ada 5 versimainstreamyang
tetap bertahan mengenai peristiwa yang berbuntut pada pembantaian
sekitar 500 ribu simpatisan PKIpaling tragis di Jawa dan Balihingga 1967
itu. Versi lain sebenarnya cukup bertebaran, tapi umumnya merupakan
sempalan dari kelima analisa pokok tersebut.
1. Versi Pertama, adalah versi Angkatan Darat yang didukung oleh pemerintah otoriter Soeharto.
Tahun 1994, sekretariat negara menerbitkan buku putih berjudulGerakan 30 September, Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya.
Secara jelas, buku tersebut menuduh bahwa PKI-lah yang menjadi pelaku kup.
Versi ini menjadithe final and the whole truthserta haram untuk dibantah selama puluhan tahun!
Namun,
sejarawan LIPI Asvi Warman Adam mencatat, kalau buku putih itu dibaca
dengan seksama, akan diperoleh kesimpulan yang tentu tidak diharapkan
oleh pembuatnya.
Mengapa bisa begitu? Karena ternyata banyak nama yang disebutkan secara berulang-ulang hingga ratusan kali.
Cara
penulisan dalam buku ini mungkin sengaja dibuat untuk mengalihkan inti
permasalahan dan memfokuskan pembaca hanya pada tokoh-tokoh yang disebut
berkali-kali tersebut agar terjadi pengontrolan pemikiran dan pembaca
terbius, ibarat doktrin.
Terdapat indeks nama sebanyak 306 orang tokoh dalam buku itu. Dan beberapa diantaranya disebut secara berulang-ulang:
1) Presiden Soekarno disebut 128 kali,
2) Dua tokoh PKI (Aidit dan Syam, 77 kali), dan
3) Dua kubu perwira ABRI (107 kali).
Pengamat sejarawan LIPI, Dr Asvi Marwan Adam
Sedangkan dalam indeks kata penting, tiga kata yang paling sering muncul adalah:
1) Gerakan Tiga Puluh September,
2) Dewan Revolusi,
3) Dewan Jenderal.
Sedangkan kata PKI justru hanya disebut dua kali.
Jadi, buku ini lebih berbicara tentang tokoh PKI (atau menurut istilah Orde Baru, oknum)
Oknum tersebut yaitu Aidit dan Syam, ketimbang mengenai PKI sebagai sebuah organisasi sosial-politik, kata Asvi(Majalah TEMPO edisi 2-8 Oktober 2000).
2. Versi Kedua, datang dari kolega LaCapra, B.R.O.G Anderson dan Ruth McVey yang dikenal sebagaiCornell Paper.
Tahun 1966, dua Indonesianis terkemuka itu menerbitkan tulisan berjudulA Preliminary Analysis of The October 1, 1965: Coup in Indonesia,.
Tulisan yang lebih dikenal dengan sebutanCornell Paperitu menyatakan bahwa PKI tidak memainkan peran sama sekali dalam kup.
Ben Anderson alias Prof. Emeritus Benedict Anderson alias Soebeno alias Bargowo dari Cornell University, USA. (indiependen.com)
A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia(bahasa Indonesia: Analisis Awal Kudeta 1 Oktober 1965 di Indonesia), atau lebih umum dikenal sebagaiCornell Paperini adalah publikasi ilmiah yang mengungkapkan kegagalan kudeta oleh Gerakan 30 September dengan sangat rinci.
Artikel
ini dipublikasikan pada tanggal 10 Januari 1966. Studi paper ini
ditulis oleh Benedict Anderson and Ruth Mcvey, dengan pertolongan
Frederick Burnell, dengan menggunakan informasi dari berbagai sumber
berita Indonesia pada saat itu.
Pada
saat paper ini ditulis, ketiga orang ini adalah anggota dari Ikatan
Alumni Universitas Cornell dan adalah ahli dalam bidang sejarah Asia
Tenggara.
Dalam
paper ini Anderson dan Mcvey memaparkan teori bahwa PKI maupun Sukarno
tidak terlibat dalam gerakan kudeta ini; bahkan mereka adalah korban
dari gerakan ini.
Berdasarkan
informasi dan dokumen-dokumen yang Anderson dan McVey gunakan, mereka
memberikan teori bahwa kudeta adalah sebuah masalah internal dalam
tentara yang bertujuan menggeser beberapa jendral yang dikatakan bekerja
sama dengan CIA.
Dalam
waktu seminggu Gerakan 30 September diberantas oleh Mayor Jendral
Suharto, yang mengambil alih pertanggung jawaban untuk menggalakkan
keamamanan.
Paper
ini juga mengajukan alternative teori yang akhirnya ditolak. Salah satu
diantaranya adalah teori yang didukung secara resmi oleh pemerintah
Indonesia sampa saat ini yaitu PKI adalah dalang dari kudeta ini.
Publikasi ini awalnya dirahasiakan, tetapi bocor pada tanggal 5 Maret 1966 dengan munculnya artikel di KoranThe Washington Postoleh jurnalis Joseph Kraft.
Sampai
tahun 1971, Cornell menolak aksess ke publikasi ini dan artikel ini
banyak disalahgunakan atau diinterpretasikan tidak benar.
Permintaan
kepada pemerintah Indonesia untuk menyumbangkan dokumen-dokumen
tambahan yang berhubungan dengan kejadian kudeta ditolak oleh pemerintah
Indonesia.
Jadi,
menurut paper ini PKI tidak mempunyai motif apa pun untuk melakukan
kudeta, karena partai pimpinan Aidit ini telah menikmati keuntungan yang
besar di bawah pemerintah Soekarno.
Kup
yang dilakukan sangat cepat itu adalah murni persoalan internal AD.
Kudeta gagal tersebut, kata Prof. Emeritus Benedict Anderson alias
Soebeno alias Bargowo dariCornell University, USAdan juga McVey, dipicu oleh kesenjangan yang dirasakan oleh beberapa kolonel divisi Diponegoro, Semarang.
Kolonel
seperti Untung, Supardjo, serta Latief kecewa atas kepemimpinan AD di
pusat yang dianggap tercemar oleh gemerlap kehidupan Jakarta serta lemah
sikap anti-komunisnya. Akhirnya ketiga orang itu lalu melancarkan
pemberontakan.
3. Versi Ketiga, adalah kesimpulan dari John Hughes dan Antonie C.A. Dake.
Buku Soekarno File, Berkas-berkas Soekarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan (Antonie C.A. Dake)
Hughes melalui bukunyaThe End of Soekarno(1967) berpendapat bahwa Presiden Soekarno-lah yang justru bertanggung jawab atas semua rangkaian peristiwa kelam itu.
Menurutnya, tindakan Untung menciptakan Gerakan 30 September adalah atas dasar restu dari Soekarno.
Sedangkan Antonie C.A. Dake dalam bukunyaSoekarno File, Berkas-berkas Soekarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhanmengatakan bahwamasterminddari G30S adalah Soekarno.
Tulisan
di dalam buku Antonie C.A. Dake yang muncul sekitar tahun 2006 lalu
tersebut langsung mendapat reaksi cukup keras dari keluarga Soekarno.
4. Versi Keempat, menurut Wertheim, Guru Besar Universitas Amsterdam
Guru Besar Universitas Amsterdam, Wertheim punya pandangan lain mengenai G30S yang kemudian menjadi versi keempat.
Tampak
Suharto sedang menatap salah seorang Jenderal yang sedang diinterogasi
oleh PKI di dalam diorama saat berada di musium Lubang Buaya. (Setneg)
Ia mengatakan, kuat dugaan bahwa Soeharto berada di balik kup tersebut.
Hal itu didasari oleh pertanyaan simpel, mengapa Soeharto tidak menjadi target penculikan?
Soeharto,
yang juga berasal dari Kodam Diponegoro, tidak puas dengan kepemimpinan
AD di bawah Ahmad Yani yang lemah terhadap PKI.
Hal
keterlibatan Soeharto ini juga didukung oleh kedekatannya dengan
Latief, pemimpin gerakan. Latief diketahui menjenguk anaknya Soeharto,
yaitu Tommy Soeharto yang sedang sakit sebelum terjadinya kup.
5. Versi Kelima, dikembangkan oleh Peter Dale Scott.
Peter Dale Scott dariUniversity of California, Berkeley, mensinyalir keterlibatan pihak asing, khususnya AS melaluiCentral Intelligence Agency (CIA). (lihat videonya dibawah mengenaiBlack Operationatauklik disini)
Peter Dale Scott (wikipedia)
Scott
berusaha menarik hubungan antara kepentingan CIA dengan penggulingan
Soekarno serta kedekatan badan intelijen AS tersebut dengan AD pada
waktu itu.
Menurutnya,
Gestapu, respons yang ditunjukkan Seharto dengan mengambil alih
keadaan, serta pertumpahan darah, adalah skenario AD untuk merebut
kekuasaan.
Soeharto dikatakannya bermuka dua, seolah-olah memihak status quo, namun sebenarnya punya rencana untuk menumbangkan Soekarno.
Jadi,
hampir seluruh penelitian maupun kesaksian dari pelaku yang diterbitkan
belakangan ini memiliki kecenderungan satu dari 5 tesis di atas.
Sukarno and Aidit (sjsu.edu)
Entah
sampai kapan misteri peristiwa yang menjadi pertanda beralihnya rezim
Soekarno ke Soeharto itu akan terbuka secara utuh, sehingga tidak ada
lagi pertanyaan yang muncul.
Akan tetapi sejarah memang akan terus hidup, karena ia adalah dialog antara masa lalu dan masa kini.
Maka, sejarah yang selalu ditulis oleh sang pemenang, kembali menuai banyak partanyaan tambahan, namun kini ikut terkubur.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan sejarah pahit takkan terulang kembali di negeri tercinta ini.


0 komentar:
Posting Komentar